The Untold Story of Successful Entrepreneur

ceds ui | September 30, 2020

Success

Jika ada dua orang dengan sifat yang berbeda, orang A bersifat tidak jujur, sering berseteru, dingin, orang B bersifat baik hati, jujur, dan ramah. Orang yang mana yang cenderung dipilih untuk menjadi teman, atasan atau pasangan? orang yang mana yang kamu ingin lihat dia sukses di kemudian hari? Saya dan kebanyakan orang akan lebih memilih orang B! mungkin kamu juga!

A dan B

Akan tetapi, tahukah kamu bahwa kebanyakan orang sukses, terkenal dan berkuasa mempunyai sifat seperti orang A?

Ada apa nih?

Read more

5-Hour Rule: Kebiasaan Yang Harus Anda Ikuti Untuk Menjadi Sukses

ceds ui | August 25, 2020

Bill Gates, Elon Musk, Bahkan Presiden Barack Obama Melakukan 1 Rutinitas Ini!

Kita terkadang bertanya-tanya, apa yang membedakan orang biasa dengan miliarder sukses seperti Jeff Bezos, Elon Musk, Warren Buffet, atau CEO & Founder Facebook, Mark Zuckerberg?. Seperti apa pola pikir dan rutinitas mereka? atau bahkan kita bertanya: mereka makan apa sih kok bisa sampai seperti itu? Jawabannya tidak sesederhana itu, Sahabat CEDS. Ada banyak sekali faktor yang membuat mereka bisa mencapai kesuksesan besar. Hal ini tidak bisa dijawab dengan jawaban yang mutlak benar & sama untuk setiap orang. Tiap tokoh punya cerita hidup yang berbeda-beda, maka dari itu jawabannya berbeda pula. Namun, ada satu kesamaan diantara para miliuner yang dapat dengan mudah kita tiru. Terdapat satu buah aturan yang selalu mereka patuhi: 5-Hour Rule.

5-Hour Rule adalah aturan dimana kita harus menyisihkan minimal 1 jam dalam 1 hari kerja (weekdays) untuk mempelajari sesuatu secara sukarela (deliberate learning) tanpa paksaan apapun dan dilakukan secara konsisten. Sesibuk apapun kegiatan yang kita lakukan, tidak ada alasan untuk tidak belajar minimal 1 jam setiap hari. Sehingga didapatkan paling tidak 5 jam pembelajaran dalam 1 minggu kerja.

Alasan Mengapa 5-Hour Rule Itu Penting, dan Beberapa Fakta Mengejutkan Tentang Dunia Pendidikan

Bak material radioaktif, ilmu yang kita pelajari juga mempunyai decay rate atau half-life masing-masing. Half-life yang dimaksud yaitu 50% dari ilmu yang kita pelajari akan tidak relevan lagi dengan fakta di lapangan. Sebagai contoh, dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Thierry Pornard di tahun 2002, Half-life dari bidang kedokteran spesialis hati (sirosis dan hepatitis) adalah 45 tahun. Dari fakta tersebut, coba bayangkan jika kamu berkonsultasi dengan dokter spesialis hati berusia 70 tahun yang belum memperbarui keterampilannya, agak ngeri ya?. Fakta lain yang cukup mencengangkan adalah, kebanyakan ilmu yang kita pelajari sekarang mempunyai half-life yang sangat cepat, yaitu rata-rata 10 tahun. Lalu, berdasaran artikel dari Harvard Business Review yang ditulis oleh Willian D. Egger dkk, keterampilan yang saat ini diperoleh selama belajar di perguruan tinggi hanya relevan selama 5 tahun. Ya benar, 5 tahun!.

(Sumber: Half Life of Facts: Why Everything We Know Has An Expiration Date by Samuel Arbesman)

Sekarang kamu sudah menyadari bahwa ilmu yang tiap hari susah payah dipelajari, ternyata punya “masa kadaluarsa”-nya. Fakta kedua, kamu bersaing dengan orang-orang yang belajar lebih banyak setiap hari. Tidak hanya teman satu universitas, namun kamu juga akan bersaing dengan orang-orang hebat lain dari seluruh penjuru dunia. Sekarang persaingan tidak memiliki

Read more

4 Faktor Penting Dalam Meningkatkan Produktivitas

ceds ui | July 25, 2020

Ketika disodorkan dengan kata “produktif”, hal apa yang kalian bayangkan? Tentu saja jawaban setiap orang akan berbeda-beda dalam situasi yang berbeda pula. Mungkin sebagian dari kalian merasa sangat produktif ketika melakukan kegiatan yang memerlukan upaya lebih. Contohnya saat berhasil bangun lebih pagi dan berolahraga sebelum berangkat kuliah. Tapi sebagian yang lain juga mungkin lebih memilih menggunakan waktunya untuk beristirahat agar mendapatkan lebih banyak energi di kemudian waktu. Sehingga nantinya mereka dapat beraktifitas dan menyelesaikan hal lebih banyak. Hmm, kalau begitu, sebenarnya apa sih produktivitas itu? dan bagaimana cara meningkatkan produktivitas?

Charles Duhigg, seorang penulis dan reporter investigatif The New York Times, memaparkan beberapa faktor penting dalam meningkatkan produktivitas. Melalui buku keduanya yang berjudul Smarter Faster Better, ia menjelaskan cara untuk “work smart, not work hard”. Charles menyampaikan bahwa produktivitas bukan sekadar bekerja lebih banyak atau lebih lama. Menurutnya, produktivitas adalah menentukan pilihan dengan cara-cara tententu yang dilakukan se-efisien mungkin. Dalam buku ini, Charles menyampaikan beberapa gagasan penting sebagai cara menjadi produktif. Gagasan-gagasan tersebut dijabarkan secara rinci berdasarkan berbagai macam hasil penelitian dan cerita mengenai bagaimana individu atau perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak dari yang lain. Pada artikel ini, penulis telah merangkum 4 key point yang disampaikan dalam buku tersebut beserta contoh aplikasinya dalam kehidupan nyata

4 Faktor Penting:

  1. Motivasi Diri (Self-Motivation)

Hal yang dimaksud dengan motivasi disini bukan sekadar kata-kata indah yang biasa dilanturkan oleh para motivator. Menurut Charles, motivasi diri lebih rumit daripada itu. Kunci dari motivasi diri adalah dengan memegang kendali atas setiap tindakan yang kita lakukan. Caranya yaitu dengan membuat keputusan atas pilihan yang ada dengan tujuan agar kita merasa memiliki determinasi atas diri sendiri berdasarkan nilai-nilai yang kita yakini. Hal sesederhana menjawab dan menuliskan beberapa alasan mengapa kita melakukan hal tersebut. Hal ini akan membantu kita memotivasi diri dan memulai untuk melakukan hal tersebut. Tips lainnya adalah dengan belajar melakukan langkah pertama tanpa menunda-nunda. Charles Krulak, seorang Jenderal Korps Marinir AS berkata: “Sebagian besar rekrutan marinir tidak tahu bagaimana cara memaksa diri sendiri untuk memulai sesuatu yang sulit. Namun apabila kita melatih mereka untuk mengambil langkah pertama dengan melakukan sesuatu yang membuat mereka merasa memegang kendali, mereka akan jauh lebih mudah untuk melanjutkannya”.

Contoh:

Penulis sedang giat dalam mempelajari ilmu marketing, termasuk salah satunya digital marketing. Padahal, hal tersebut tidak berkaitan dengan studi yang sedang penulis jalani saati ini, yaitu di bidang teknik. Namun penulis memiliki beberapa alasan mengapa tetap giat melakukan hal tersebut. Salah satunya

Read more

Did You Know: Cashflow Quadrant by Robert Kiyosaki

ceds ui | July 25, 2020

Apa itu Cashflow Quadrant?

Cashflow Quadrant merupakan buah pemikiran Robert Kiyosaki, seorang entrepreneur, educator, dan investor yang percaya bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk mengubah hidup, mengatur keuangan masa depan, dan menjadi kaya seperti yang setiap orang dambakan. Kiyosaki terkenal sebagai penulis buku best seller “Rich Dad Poor Dad”. Melalui buku ini, ia telah berhasil mengubah sudut pandang jutaan orang terhadap keuangan & kesuksesan.

robert kiyosaki

 

Sederhananya, Cashflow quadrant merupakan sebuah diagram yang menggambarkan perbedaan cara manusia dalam memperoleh penghasilan mulai dari bekerja sebagai karyawan, dokter, artis, direktur perusahaan, sampai konglomerat sekalipun. Kiyosaki mengkategorisasi perbedaan-perbedaan tersebut ke dalam 4 kelompok yang terbagi menjadi 2 kuadran, yaitu kuadran sisi kiri dan kanan.
kuadran cashflow4 Kuadran Cashflow

  • Kuadran “E” (Employee)

Kuadran pertama adalah “E” (Employee) yang merupakan salah satu kuadran pada sisi kiri. Kiyosaki mengasosiasikan kuadran kiri sebagai “pencetak uang” untuk para individu pada kuadran kanan. Dapat dikatakan seperti itu karena individu di kuadran ini memilih mencari keamanan dan kenyamanan bekerja. Keamanan yang dimaksud adalah dengan bertumpu pendapatan yang sudah pasti diterima oleh mereka. Orang-orang “E” cenderung harus menukar hampir seluruh waktunya untuk bekerja. Jika mereka tidak bekerja, artinya tidak ada uang yang dihasilkan. Contoh: karyawan, buruh, teknisi, dsb.

  • Kuadran “S” (Self-employed business)

Masih pada sisi kiri Cashflow Quadrant, Kuadran selanjutnya adalah “S” (Self-employed business). Kuadran ini berisikan para individu yang memiliki bisnis/usaha sendiri, tetapi bisnis ini cenderung tidak dapat dilepaskan begitu saja. Pekerjaan “S” ini masih tetap membutuhkan kerja keras dan ide utama dari pemilik usaha. Tetapi dengan menjadi individu pada kuadran ini, sebetulnya merupakan langkah awal yang baik untuk pindah ke sisi kanan kuadran agar dapat mencapai kebebasan finansial. Contoh: UMKM, dokter, pengacara, dsb.

  • Kuadran “B” (Big Business)

Pindah ke sisi kanan, terdapat kuadran “B” (Big Business). Menurut Kiyosaki, Individu yang tergolong ke dalam kuadran ini adalah mereka yang memiliki perusahaan dengan lebih dari 500 orang karyawan. Mereka dapat membuat suatu sistem yang dapat menyatukan berbagai macam orang (khususnya pada kuadran “E”) untuk menjadi sebuah tim yang solid dan dapat mencapai kesuksesan besar. Individu “B”, baik bekerja atau tidak, mereka akan tetap menghasilkan uang. Inilah yang disebut dengan passive income. Contoh: Mark Zuckerberg (CEO Facebook), Elon Musk (CEO SpaceX).

  • Kuadran “I” (Investor)

Hanya 1% dari penduduk dunia yang memiliki kekayaan lebih dari 1 juta dolar amerika (Credit Suisse Global Wealth Report, 2019). Mereka diyakini memiliki 44% dari total kekayaan penduduk dunia. Orang-orang tersebut sering

Read more

Vigorously Coaching Business by Coach Getty

ceds ui | June 28, 2019

Kemarin, 27/06/19, CEDS UI menghadiri undangan dari coach Getty untuk mendapat pembelajaran seputar dunia bisnis dan berbagi cerita pengalaman bisnis. Pertemuan ini dihairi oleh 8 0rang anggota CEDS UI yang sebagian besar telah memiliki bisnis.

Pengalaman yang diceritakan coach Getty sangat menginspirasi anggota CEDS untuk tidak putus asa dalam menghadapi kegagalan. Coach getty, yang baru terjun dalam dunia bisnis di usianya yang ke- 35 tahun, pada waktu itu merasa bosan atas pekerjaan nya yang beliau tekuni. Beliau juga merasa waktu nya hanya untuk bekerja tanpa memiliki waktu untuk keluarganya.  Oleh karena itu, rasa keyakinan yang tinggi akhirnya membuat beliau memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan nya secara bertahap dan mengambil resiko penuh untuk memulai bisnis nya dari nol. Kini, beliau adalah seorang coach sukses yang memiliki banyak client dari perusahaan besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak hanya menceritakan pengalaman hidupnya, beliau juga membagikan ilmu yang ia dapati dengan menjelaskan aspek terpenting dalam bisnis yang ia bagi menjadi 3 bagian yaitu; Value, People, dan Proses. Ketiga aspek ini merupakan suatu hal yang terpenting dalam menjalankan usaha. Berikut ringkasan penjelasan yang beliau sampaikan;

  1. Value merupakan aspek terpenting dalam usaha karena keterkaitannya dengan semangat menjalani usaha. seseorang akan menjadi malas dan tidak bergairah dengan usahanya apabila  tidak memiliki tujuan. Value berarti seseorang harus memiliki visi dan misi usahanya untuk terus berkembang secara signifikan.
  2. People berarti ilmu/ (people skills) Sebagai contoh, apabila seseorang terjun dibidang fashion, berarti orang tersebut harus memahami seluk beluk fashion dan juga bahan-bahan yang bagus dan berkualitas.
  3. Proses dapat dikatakan sama dengan perfomance. Yakni, kinerja atas bisnis yang dijalankan guna meningkatkan product selling dengan menggunakan metodelogi yang sesuai. 

Ketiga aspek ini dapat dipelajari dengan mengikuti training,mentoring, dan coaching. Perbedaan diantara ketiga aspek tersebut dapat dilihat langsung kedalam website.

Pertemuan ini sangat bermanfaat bagi CEDS dan kami berharap coach Getty dapat terus menginsprasi orang banyak.

 

 

Read more

Campus Visit – Universitas Diponegoro (wirausaha Undip)

ceds ui | June 26, 2019

 

Pada hari sabtu yang lalu, tepatnya pada tanggal 27 April 2019, CEDS UI kedatangan UKM wirausaha dari Universitas Diponegoro. Kedatangan ini merupakan suatu penghormatan bagi kami karena dapat berkumpul dan berbagi pengalaman tak hanya seputar kinerja organisasi namun juga seputar dunia bisnis yang dikembangkan oleh mahasiswa UI dan Undip. Acara pertama dibuka dengan sambutan hangat dari ketua CEDS UI 2019 dan ketua wirausaha Undip 2019. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan memaparkan program kerja dari setiap divisi dengan menggunakan power point.

 

 

 

Acara ini dilanjutkan dengan membentuk focus group discussion  yang membahas program kerja dari setiap divisi secara mendalam dan menceritakan kendala-kendala selama kepengurusan.  Konsep sharing is caring ini bertujuan sebagai ajang para mahasiswa untuk meningkatkan kualitas kerja dari setiap divisi-nya.  Tidak hanya itu, para mahasiswa dari kedua universitas juga diberi kesempatan untuk bertukar akun media sosial guna memperluas jaringan pertemanan.

 


Acara ditutup dengan makan siang bersama dan foto bersama. Terimakasih Wirausaha Undip atas kunjungannya ke CEDS UI. Diharapkan, dengan selesainya kunjungan ini, hubungan silaturahmi antar UKM bisnis semakin erat.

 

Read more

Main Article: When Fashion is More Than Just Clothes

ceds ui | November 3, 2018

Sahabat CEDS, apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata fashion? Mungkin di antara kalian ada yang akan menjawab dengan sederhana bahwa fashion berarti gaya berpakaian yang mencerminkan pribadi kita. Ada juga yang akan menjawab bahwa fashion adalah cara kita berkomunikasi secara nonverbal untuk menunjukkan kepribadian, pekerjaan, dan jenis kelamin kita. Keduanya memang betul. Namun, bagaimana jika ternyata makna fashion ternyata lebih dalam dari itu? Fashion ternyata bisa juga diartikan sebagai fenomena kompleks yang menggabungkan berbagai pandangan, mulai dari psikologis, sosiologis, kultural, sampai komersial. Memahami fashion sebagai hal yang lebih dalam daripada sekadar gaya berpakaian ini ternyata penting banget untuk calon entrepreneur seperti kita, lho. Hal ini menyadarkan kita supaya kita jadi lebih aware dengan perkembangan sosial, budaya, dan politik di sekitar kita, voila … turn them into a piece of meaningful cloth! Sebagai pengetahuan dasar, Sahabat CEDS bisa mengintip nih contoh-contoh fashion statements yang sempat mondar-mandir di berbagai tempat, baik di runway maupun di toko retail! Ada apa saja, ya?

Read more

Business 101: What Do You Know About Upselling and Cross-Selling?

ceds ui | June 29, 2018

Saat ini, banyak pengusaha maupun marketer yang menghabiskan banyak budget perusahaan untuk meningkatkan penjualan produk mereka. Mereka terlalu fokus untuk mencari konsumen baru dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengiklankan produk mereka di berbagai tempat. Padahal, selain mencari konsumen baru, ada cara lain untuk meningkatkan penjualan perusahaan mereka melalui konsumen lama, lho! Faktanya, berdasarkan penelitian dari Gartner Group, 80% dari keuntungan perusahaan kita di masa depan berasal dari hanya 20% dari konsumen kita yang sudah ada. Pada artikel kali ini, Sahabat CEDS akan dikenalkan dengan metode bernama upselling dan cross-selling. Dua metode penjualan ini dianggap mampu untuk meningkatkan penjualan. Selain bermanfaat untuk penjual, metode ini juga menguntungkan pembeli, lho! But first, what are they really about?

Read more

Did You Know: The Magic Behind Two-Pizza Team Rule from Jeff Bezos

ceds ui | June 29, 2018

Baik sebagai mahasiswa maupun sebagai pebisnis, Sahabat CEDS pasti pernah merasakan berada di sebuah tim yang mengharuskan kita untuk mencapai suatu tujuan, bukan? Misalnya, mengerjakan tugas kuliah atau mencapai profit dalam jumlah tertentu setiap bulannya. Namun, pernah nggak Sahabat CEDS merasa tim tersebut nggak atau kurang menjalankan tugasnya dengan baik? Hmmm, kalau pernah, mungkin salah satunya adalah karena tim tersebut nggak bekerja dengan efisien, nih!

Read more

Main Article: Opportunities to Develop Culinary Business in Indonesia

ceds ui | June 20, 2018

Sebagaimana yang Sahabat CEDS ketahui, makanan dan minuman merupakan kebutuhan primer manusia. Dari makanan dan minuman tersebut, kita dapat mengembangkannya menjadi berbagai macam rupa jenis dan bentuk dengan resep tertentu. Bisnis kuliner memiliki peluang yang menjanjikan dikarenakan beberapa alasan yaitu:

1) Tujuan wisata masyarakat

Kuliner kini bukan hanya sekadar untuk mengenyangkan perut dan melepaskan dahaga, tetapi juga untuk berwisata atau yang biasa disebut dengan wisata kuliner. Pergeseran preferensi ini biasa disebut dengan shifting masyarakat akan necessities goods menjadi leisure goods.

Read more