CEDS UI

Center for Entrepreneurship Development and Studies Universitas Indonesia

CEDS UI 2019 (kompetitif-Progresif-Prestatif)

CEDS UI 2019 (kompetitif-Progresif-Prestatif)

    • admin
    • January 1, 2014
    Reply

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

    • admin
    • January 1, 2014
    Reply

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

      • admin
      • January 1, 2014
      Reply

      Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Leave a Comment

Vigorously Coaching Business by Coach Getty

ceds ui | June 28, 2019

Vigorously Coaching Business by Coach Getty

Kemarin, 27/06/19, CEDS UI menghadiri undangan dari coach Getty untuk mendapat pembelajaran seputar dunia bisnis dan berbagi cerita pengalaman bisnis. Pertemuan ini dihairi oleh 8 0rang anggota CEDS UI yang sebagian besar telah memiliki bisnis.

Pengalaman yang diceritakan coach Getty sangat menginspirasi anggota CEDS untuk tidak putus asa dalam menghadapi kegagalan. Coach getty, yang baru terjun dalam dunia bisnis di usianya yang ke- 35 tahun, pada waktu itu merasa bosan atas pekerjaan nya yang beliau tekuni. Beliau juga merasa waktu nya hanya untuk bekerja tanpa memiliki waktu untuk keluarganya.  Oleh karena itu, rasa keyakinan yang tinggi akhirnya membuat beliau memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan nya secara bertahap dan mengambil resiko penuh untuk memulai bisnis nya dari nol. Kini, beliau adalah seorang coach sukses yang memiliki banyak client dari perusahaan besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak hanya menceritakan pengalaman hidupnya, beliau juga membagikan ilmu yang ia dapati dengan menjelaskan aspek terpenting dalam bisnis yang ia bagi menjadi 3 bagian yaitu; Value, People, dan Proses. Ketiga aspek ini merupakan suatu hal yang terpenting dalam menjalankan usaha. Berikut ringkasan penjelasan yang beliau sampaikan;

  1. Value merupakan aspek terpenting dalam usaha karena keterkaitannya dengan semangat menjalani usaha. seseorang akan menjadi malas dan tidak bergairah dengan usahanya apabila  tidak memiliki tujuan. Value berarti seseorang harus memiliki visi dan misi usahanya untuk terus berkembang secara signifikan.
  2. People berarti ilmu/ (people skills) Sebagai contoh, apabila seseorang terjun dibidang fashion, berarti orang tersebut harus memahami seluk beluk fashion dan juga bahan-bahan yang bagus dan berkualitas.
  3. Proses dapat dikatakan sama dengan perfomance. Yakni, kinerja atas bisnis yang dijalankan guna meningkatkan product selling dengan menggunakan metodelogi yang sesuai. 

Ketiga aspek ini dapat dipelajari dengan mengikuti training,mentoring, dan coaching. Perbedaan diantara ketiga aspek tersebut dapat dilihat langsung kedalam website.

Pertemuan ini sangat bermanfaat bagi CEDS dan kami berharap coach Getty dapat terus menginsprasi orang banyak.

 

 

    • admin
    • January 1, 2014
    Reply

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

    • admin
    • January 1, 2014
    Reply

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex

Read more

Campus Visit – Universitas Diponegoro (wirausaha Undip)

ceds ui | June 26, 2019

Campus Visit – Universitas Diponegoro (wirausaha Undip)

 

Pada hari sabtu yang lalu, tepatnya pada tanggal 27 April 2019, CEDS UI kedatangan UKM wirausaha dari Universitas Diponegoro. Kedatangan ini merupakan suatu penghormatan bagi kami karena dapat berkumpul dan berbagi pengalaman tak hanya seputar kinerja organisasi namun juga seputar dunia bisnis yang dikembangkan oleh mahasiswa UI dan Undip. Acara pertama dibuka dengan sambutan hangat dari ketua CEDS UI 2019 dan ketua wirausaha Undip 2019. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan memaparkan program kerja dari setiap divisi dengan menggunakan power point.

 

 

 

Acara ini dilanjutkan dengan membentuk focus group discussion  yang membahas program kerja dari setiap divisi secara mendalam dan menceritakan kendala-kendala selama kepengurusan.  Konsep sharing is caring ini bertujuan sebagai ajang para mahasiswa untuk meningkatkan kualitas kerja dari setiap divisi-nya.  Tidak hanya itu, para mahasiswa dari kedua universitas juga diberi kesempatan untuk bertukar akun media sosial guna memperluas jaringan pertemanan.

 


Acara ditutup dengan makan siang bersama dan foto bersama. Terimakasih Wirausaha Undip atas kunjungannya ke CEDS UI. Diharapkan, dengan selesainya kunjungan ini, hubungan silaturahmi antar UKM bisnis semakin erat.

 

    • admin
    • January 1, 2014
    Reply

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

    • admin
    • January 1, 2014
    Reply

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

      • admin
      • January 1, 2014
      Reply

      Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Leave a Comment

Read more

Main Article: When Fashion is More Than Just Clothes

ceds ui | November 3, 2018

Main Article: When Fashion is More Than Just Clothes

Sahabat CEDS, apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata fashion? Mungkin di antara kalian ada yang akan menjawab dengan sederhana bahwa fashion berarti gaya berpakaian yang mencerminkan pribadi kita. Ada juga yang akan menjawab bahwa fashion adalah cara kita berkomunikasi secara nonverbal untuk menunjukkan kepribadian, pekerjaan, dan jenis kelamin kita. Keduanya memang betul. Namun, bagaimana jika ternyata makna fashion ternyata lebih dalam dari itu? Fashion ternyata bisa juga diartikan sebagai fenomena kompleks yang menggabungkan berbagai pandangan, mulai dari psikologis, sosiologis, kultural, sampai komersial. Memahami fashion sebagai hal yang lebih dalam daripada sekadar gaya berpakaian ini ternyata penting banget untuk calon entrepreneur seperti kita, lho. Hal ini menyadarkan kita supaya kita jadi lebih aware dengan perkembangan sosial, budaya, dan politik di sekitar kita, voila … turn them into a piece of meaningful cloth! Sebagai pengetahuan dasar, Sahabat CEDS bisa mengintip nih contoh-contoh fashion statements yang sempat mondar-mandir di berbagai tempat, baik di runway maupun di toko retail! Ada apa saja, ya?

Fashion as a Politic Statement

Pada New York Fashion Week Spring 2017 lalu, koleksi dari R13 Denim sempat menjadi perbincangan hangat di dunia. Bagaimana tidak, Chris Leba berani menampilkan koleksinya yang berbau politik. “I like to think that there’s a consistency about (what) we’re trying say and what we’re trying to express,” ucap Leba kepada media.

Dengan menampilkan koleksi-koleksi tersebut sekitar 2 bulan sebelum pemilihan presiden baru Amerika Serikat, banyak orang bertanya-tanya apakah Leba takut terhadap dampak menampilkan political statement seperti ini di ajang fashion runway. “I did for a second, but I felt strongly enough about it — that’s what it is to be American. You get to say what you want to say and people can have their opinion,” ungkapnya.

Sumber: fashionista.com
Sumber: fashionista.com
Sumber: fashionista.com

Fashion as Supporting Diversity Statement

Ternyata, diversity tidak hanya sedang menjadi perbincangan hangat di dalam negeri. Topik ini juga menjadi perbincangan di luar negeri, bahkan sampai menjadi ide untuk fashion show Prabal Gurung’s Autumn/Winter 2017 di New York Fashion Week lalu. Prabal Gurung, seorang desainer pakaian asal Nepal-Amerika Serikat, mengangkat topik tentang feminisme dalam koleksinya.

Sumber: vogue.com
Sumber: vogue.com

Prabal Gurung bukan satu-satunya desainer yang mengangkat topik tentang feminisme di dalam koleksinya. Maria Grazia Chiuri, Creative Director Dior, juga mengeksplorasi topik ini di koleksi Dior. Nggak tanggung-tanggung, bahkan

Read more

Business 101: What Do You Know About Upselling and Cross-Selling?

ceds ui | June 29, 2018

Business 101: What Do You Know About Upselling and Cross-Selling?

Saat ini, banyak pengusaha maupun marketer yang menghabiskan banyak budget perusahaan untuk meningkatkan penjualan produk mereka. Mereka terlalu fokus untuk mencari konsumen baru dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengiklankan produk mereka di berbagai tempat. Padahal, selain mencari konsumen baru, ada cara lain untuk meningkatkan penjualan perusahaan mereka melalui konsumen lama, lho! Faktanya, berdasarkan penelitian dari Gartner Group, 80% dari keuntungan perusahaan kita di masa depan berasal dari hanya 20% dari konsumen kita yang sudah ada. Pada artikel kali ini, Sahabat CEDS akan dikenalkan dengan metode bernama upselling dan cross-selling. Dua metode penjualan ini dianggap mampu untuk meningkatkan penjualan. Selain bermanfaat untuk penjual, metode ini juga menguntungkan pembeli, lho! But first, what are they really about?

Sumber: retaildoc.com

Upselling dan cross-selling berbeda, lho!

Meskipun mirip dan sama-sama menguntungkan pihak penjual maupun pembeli, upselling dan cross-selling memiliki perbedaan yang signifikan. Upselling adalah mendorong konsumen untuk membeli produk yang lebih besar, lebih kuat, atau lebih banyak daripada produk awal yang konsumen pilih. Sementara itu, cross-selling adalah mendorong konsumen untuk membeli produk berbeda yang masih berhubungan dengan produk awal yang konsumen pilih. Supaya Sahabat CEDS semakin paham, kita baca contohnya, yuk!

Misalnya, seorang customer ingin membeli sebuah burger di salah satu cabang restoran fast food dekat rumahnya. Setelah membeli sesuatu, biasanya kasir restoran akan memberikan penawaran lainnya kepada customer tersebut. Jika kasir tersebut memilih untuk melakukan upselling, maka yang akan ia katakan adalah hal-hal seperti berikut:

  • “Apakah Ibu ingin burger dengan ukuran yang lebih besar?”
  • “Apakah Ibu ingin menambah sayuran lebih banyak di burger ini?”
  • “Ibu akan mendapatkan diskon sebesar 25% pada pembelian selanjutnya jika Ibu membeli 3 burger.”

Sementara itu, jika kasir tersebut memilih untuk melakukan cross-selling, maka yang akan ia katakan adalah hal-hal seperti berikut:

  • “Pelanggan kami yang membeli burger ini juga membeli milkshake tersebut.”
  • “Kami memiliki paket anak-anak jika Ibu ingin membelinya.”
  • “Pelanggan kami yang menyukai burger ini juga menyukai jus tersebut.”

Jika kita ambil contoh lain seperti kentang, beginilah gambaran dari perbedaan antara upselling dan cross-selling.

Sumber: customerengagementmanagementintourism.wordpress.com

Upselling dan cross-selling tidak hanya terjadi di bisnis offline, lho! Bisnis online juga sudah banyak yang menggunakan metode ini untuk meningkatkan penjualannya. Coba tebak dari dua contoh ini mana yang merupakan upselling dan mana yang merupakan cross-selling dalam bisnis online?

Sumber: getelastic.com
Sumber: econsultancy.com

Kira-kira, metode

Read more

Did You Know: The Magic Behind Two-Pizza Team Rule from Jeff Bezos

ceds ui | June 29, 2018

Did You Know: The Magic Behind Two-Pizza Team Rule from Jeff Bezos

Baik sebagai mahasiswa maupun sebagai pebisnis, Sahabat CEDS pasti pernah merasakan berada di sebuah tim yang mengharuskan kita untuk mencapai suatu tujuan, bukan? Misalnya, mengerjakan tugas kuliah atau mencapai profit dalam jumlah tertentu setiap bulannya. Namun, pernah nggak Sahabat CEDS merasa tim tersebut nggak atau kurang menjalankan tugasnya dengan baik? Hmmm, kalau pernah, mungkin salah satunya adalah karena tim tersebut nggak bekerja dengan efisien, nih!

Sumber: entrepreneur.com

Seperti apa tim yang baik itu?

Jeff Bezos, CEO sekaligus founder dari Amazon.com yang sudah berdiri selama sekitar 25 tahun, memiliki tips untuk kita dalam membangun sebuah tim yang efektif, nih. Dalam memanajemen sebuah tim, Bezos mengatakan bahwa tim yang kecil membuat komunikasi menjadi lebih efektif, terdesentralisasi, moving fast, dan high autonomy. Menurut Bezos, tim yang kecil ini juga mampu membuat percakapan di antara para anggota tim menjadi lebih meaningful dan kaya akan inovasi, lho!

Contohnya adalah percakapan yang terjadi ketika Sahabat CEDS berada di sebuah kelas dengan puluhan mahasiswa dibandingkan ketika Sahabat CEDS berada di sebuah peer group yang hanya terdiri dari beberapa anggota. Sahabat CEDS pasti bisa merasakan bahwa interaksi yang lebih mendalam terjadi ketika berada di peer group tersebut daripada di kelas, bukan?

Mengapa tim dengan anggota sedikit lebih baik daripada tim dengan anggota banyak?

Sebenarnya, yang menjadi permasalahan utama dari tim yang kurang efisien tersebut bukan jumlah anggota tim itu sendiri, namun jumlah link yang muncul akibat bertambahnya jumlah anggota tim. Hmmm, maksudnya gimana, ya? Biar lebih paham, yuk lihat rumus berikut!

Jumlah link di dalam sebuah tim =

n = jumlah anggota tim

Dari rumus ini, dapat kita simpulkan bahwa semakin banyak jumlah anggota sebuah tim, maka semakin banyak link yang terbentuk. Semakin banyak link yang terbentuk, cost yang dibutuhkan untuk berkomunikasi, berkoordinasi, dan berhubungan dalam sebuah tim juga semakin banyak sehingga dapat menurunkan produktivitas sebuah tim dan para anggotanya.

Contohnya adalah ketika sebuah tim berjumlah 6 orang dibandingkan dengan tim berjumlah 12 orang. Tim dengan 6 anggota hanya menciptakan 15 link, sementara tim dengan 12 orang menciptakan 66 link yang membutuhkan lebih banyak cost.

Nggak hanya cost yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah link yang tercipta. Namun, ternyata jumlah anggota tim yang terlalu banyak juga memengaruhi kondisi psikologi para anggotanya. Menurut peneliti Bradley Staats, Katherine Milkman, dan Craig Fox, semakin besar sebuah

Read more

Main Article: Opportunities to Develop Culinary Business in Indonesia

ceds ui | June 20, 2018

Main Article: Opportunities to Develop Culinary Business in Indonesia

Sebagaimana yang Sahabat CEDS ketahui, makanan dan minuman merupakan kebutuhan primer manusia. Dari makanan dan minuman tersebut, kita dapat mengembangkannya menjadi berbagai macam rupa jenis dan bentuk dengan resep tertentu. Bisnis kuliner memiliki peluang yang menjanjikan dikarenakan beberapa alasan yaitu:

1) Tujuan wisata masyarakat

Kuliner kini bukan hanya sekadar untuk mengenyangkan perut dan melepaskan dahaga, tetapi juga untuk berwisata atau yang biasa disebut dengan wisata kuliner. Pergeseran preferensi ini biasa disebut dengan shifting masyarakat akan necessities goods menjadi leisure goods.

Sumber: theenguinity.com

2) Mudah diinovasi

Produk kuliner memiliki kebebasan untuk dikembangkan sesuai dengan kreativitas yang dimiliki oleh pemilik usaha. Inovasi akan menciptakan beragam jenis produk kuliner yang belum ada di pasar sebelumnya. Keberagaman ini yang membuat pasar tidak akan pernah bosan dan akan berpotensial untuk laku di pasaran.

3) Keuntungan yang dapat berlipat

Hal ini terjadi karena bahan baku dalam melakukan produksi bisnis kuliner memiliki rata-rata harga yang terjangkau dan harga jual dari produk dapat ditentukan dari tingkat kemahiran dalam memproduksi. Semakin terampil dan mahir kita memproduksi produk kuliner, maka harga dapat melambung tinggi sehingga kita dapat mendapatkan profit margin yang tinggi.

Ketiga peluang bisnis kuliner yang menjanjikan tersebut akhirnya mendorong pertumbuhan bisnis kuliner di Indonesia. Menurut data BEKRAF RI (Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia), bisnis kuliner merupakan penyumbang PDB terbesar Indonesia pada sektor ekonomi kreatif dibandingkan dengan subsektor lainya, yaitu sebesar 68% dari 8,2 juta unit kreatif yang menopang PDB RI pada tahun 2018. Selain itu, bisnis kuliner mengalami pertumbuhan yang pesat dengan tingkat rata-rata pertumbuhan sebesar 7-14 % per tahun dalam lima tahun terakhir. Hal ini dikarenakan shifting gaya hidup orang perkotaan, di mana pada saat ini masyarakat perkotaan kerja hingga larut malam dan tidak sempat untuk membuat makananya sendiri di rumah sehingga memilih untuk membelinya di restoran atau toko makanan terdekat dan tentunya juga dipengaruhi oleh shifting masyarakat dari necessities goods menjadi leisure goods yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan momentum pertumbuhan bisnis kuliner tersebut dengan membangun bisnis kuliner dengan memerhatikan hal-hal penting yang sangat berpengaruh dalam membangun bisnis kuliner, yaitu:

1) Lokasi usaha yang strategis

Lokasi usaha sebaiknya di lokasi yang sering dilalui oleh orang-orang dengan harga yang sesuai dengan modal Sahabat CEDS.

2) Ketersediaan modal untuk memulai usaha

Modal yang kita miliki sebaiknya cukup untuk memulai usaha. Sahabat CEDS bisa mendapatkan modal ini melalui

Read more

QnA: Mumtaz Anwari and How He Turned His Hobby into Business

ceds ui | June 20, 2018

QnA: Mumtaz Anwari and How He Turned His Hobby into Business

Beberapa waktu lalu, CEDS UI memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengan Kak Mumtaz Anwari. Kak Mumtaz merupakan founder dari MTZ Cheesecake yang memproduksi berbagai macam rasa cheesecake in jar. “MTZ jual beraneka macam cheececake in jar. Saat ini, produksi kami sudah punya 5 cabang Go-Food di seluruh Jabodetabek,” ucap mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini.

Kak Mumtaz bercerita bahwa awal mula ia menjalankan bisnis ini adalah karena kecintaannya terhadap makanan. “Gue emang suka nyoba-nyoba resep baru. Resep-resep tersebut biasanya gue dapet dari Youtube atau dari nyokap gue yang emang suka masak,” jelasnya. “Suatu hari, gue bikin cheesecake dan mulai terpikir ide untuk berbisnis. Tapi, gue merasa kalo cheesecake-nya biasa aja, maka produk gue akan kalah saing dengan cheesecake lain di pasar. Makanya, gue buat cheesecake yang beda dan unik.”

Mumtaz Anwari,Founder dari MTZ Cheesecake

Akhirnya, mulai dari semester dua, Kak Mumtaz mencoba memasarkan produk cheesecake in jar miliknya sendiri. Produk tersebut ia namai dengan MTZ Cheesecake. Pada masa-masa awal mengembangkan bisnisnya, Kak Mumtaz mengaku bahwa ia mengerjakan sendiri segala hal. “Gue yang bikin cheesecake-nya. Selain itu, gue juga yang mengantarkannya ke konsumen,” jelas Kak Mumtaz sambil mengenang masa-masa tersebut. Kini, Kak Mumtaz sudah memiliki 4 orang pegawai untuk membantu mengurus operasional bisnisnya.

Sejak saat itu, bisnis Kak Mumtaz terus berkembang pesat. Kak Mumtaz bercerita bahwa ketika mulai memasuki semester 3, pendapatannya bahkan sudah mencapai lebih dari 20 juta per bulan, lho! “Pemasukan gue paling banyak dari danus kepanitiaan. Jadi, panitia dana usaha dari kepanitiaan FEB maupun fakultas lain banyak yang jual cheesecake gue. Alhamdulillah, pemasukannya banyak banget dari situ.” Tidak hanya ingin mengandalkan danus kepanitiaan, Kak Mumtaz juga memasarkan produknya di koperasi fakultas, lho! “Cheesecake gue juga masuk ke koperasi-koperasi fakultas supaya lebih mudah diakses oleh mahasiswa yang ingin membeli. Saat ini, produk-produk gue udah ada di koperasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum, dan fakultas-fakultas lainnya.”

Kak Mumtaz bercerita bahwa ia sempat galau memikirkan perkembangan bisnisnya ketika ia maju sebagai Ketua BEM FEB UI 2017. “Gue memang sempet galau mikirin hal itu. Saat itu, gue berpikir mungkin ini saatnya bisnis gue stagnan dulu aja karena gue mengemban amanah sebagai Ketua BEM FEB UI. Alhamdulillah, sekarang pendapatan gue dari bisnis ini naik lagi pelan-pelan,” ujarnya.

Akhir kata, Kak Mumtaz memberikan beberapa patah kata untuk

Read more

Press Release: IGNITE Business Class 2018

ceds ui | June 20, 2018

Press Release: IGNITE Business Class 2018

IGNITE Business Class merupakan kelas pelatihan bisnis yang terdiri dari 6 rangkaian kelas dengan materi yang berbeda di setiap pertemuannya. Kelas-kelas ini diadakan setiap seminggu sekali pada hari Sabtu. Kelas pelatihan bisnis ini ditujukan kepada anggota-anggota CEDS UI supaya mereka lebih siap membangun maupun mengembangkan bisnisnya sendiri.

Kelas IGNITE yang pertama diadakan pada tanggal 7 April 2018 bertempat di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Di kelas pertama ini, Sahabat CEDS mendapatkan materi bertema “Understanding Startup“. Kelas ini membahas tentang startup, pendanaan startup, bagaimana menguji ide, dan masih banyak lagi. Kelas ini dipandu oleh Kak Valda Orchidea Z., founder dari KlikAcara yang juga merupakan Ketua CEDS UI 2016.

IBC Day 1

Selanjutnya, kelas IGNITE kedua diselenggarakan pada tanggal 21 April 2018 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Kelas ini diajar oleh Kak Dewi Meisari, S.E., M.Sc., CEO dari UKMIndonesia.org. Di kelas bertema “Business Model Canvas and Lean Canvas” ini, Kak Dewi bersama Sahabat CEDS mendiskusikan tentang definisi, cara menggunakan, dan cara membuat business model canvas dan lean canvas.

IBC Day 2

Kelas IGNITE yang ketiga mengusung tema “Spreading Value to the Millenials“. Kelas ini diadakan pada tanggal 28 April 2018 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Dalam kelas ini, Sahabat CEDS mendapatkan materi tentang strategi manajemen, diversifikasi pendapatan, manajemen biaya, dan masih banyak lagi. Kelas ini dipandu oleh Kak Roy Saputra, CEO dari FMB Group.

IBC Day 3

Kelas IGNITE berlanjut hingga ke bulan selanjutnya. Di kelas IGNITE keempat yang diadakan pada tanggal 5 April 2018, kelas ini dipandu oleh Kak Riawan Paramarta, trainer dari IDX Incubator. Kelas ini bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Kelas bertema “Financial in Business” ini mendiskusikan tentang keuangan dan monetisasi, laporan keuangan, dan masih banyak lagi.

IBC Day 4

Pada kelas IGNITE yang kelima, kelas ini diselenggarakan pada 12 April 2018 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Kelas ini diajar oleh Kak Adhita Idris, Head of Marketing dari PT. Levi’s Strauss Indonesia. Di kelas bertema “Marketing Strategy” ini, Kak Adhita bersama Sahabat CEDS mendiskusikan tentang perencanaan dan program pemasaran, analisis model strategi, jenis-jenis pertumbuhan, dan masih banyak lagi.

IBC Day 5

Kelas IGNITE terakhir diadakan pada 19 April 2018 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Kelas ini mengusung tema “How to Attract People

Read more

Press Release: Grand Launching UI Entrepreneur Networking 2018

ceds ui | May 9, 2018

Press Release: Grand Launching UI Entrepreneur Networking 2018

Pada tanggal 20 April 2018 lalu, telah berlangsung acara Grand Launching UI Entrepreneur Networking (UIEN) 2018 yang diselenggarakan di Auditorium Vokasi, Universitas Indonesia. Acara ini merupakan kegiatan awal dari rangkaian acara UIEN 2018 yang terdiri dari Grand Launching, Gathering yang memiliki 4 kali pertemuan, dan Grand Closing. Dengan mengusung tema utama Collaboration to Make Action between Young Entrepreneurs, UIEN sendiri memiliki visi untuk menjadi wadah bagi para pengusaha di kalangan mahasiswa UI untuk berkolaborasi secara kritis dan mampu menyelesaikan masalah di lingkungannya. Komunitas UIEN dibentuk oleh CEDS (Center of Entrepreneurship and Development Studies) UI, yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Indonesia yang bergerak di bidang pembinaan bisnis. Komunitas UIEN ini dibentuk setelah CEDS UI menyadari pentingnya sebuah wadah sebagai tempat berkumpulnya para pengusaha di lingkungan UI untuk mempelajari banyak hal baru dan memperluas jaringan antar sesama pengusaha.

Grand Launching UIEN 2018 diselenggarakan dalam bentuk talk show yang mengundang para praktisi bisnis yang sudah berpengalaman di bidangnya masing-masing, yaitu Roy Darmawan (Direktur Tiara Indonesia Consulting and Training), Andreas Sanjaya (CEO iGrow), dan Dini Noeh Abubakar (Pendiri dan CEO Kennedy, Voice & Berliner). Dipandu oleh 2nd Runner Up Puteri Indonesia Jawa Barat 2018, Jeanatasia Kurniasari, talk show berlangsung dengan hidup dan meriah.

Dengan berakhirnya acara Grand Launching UIEN 2018 ini, maka telah diresmikan pula rangkaian acara UIEN 2018 selanjutnya. Kegiatan UIEN 2018 selanjutnya adalah rangkaian Gathering yang mengundang tokoh-tokoh ternama yang telah sukses di bidang entrepreneurship dan networking untuk berbagi pengalaman dengan para anggota UIEN 2018 dan juga Grand Closing. Untuk menjadi anggota Komunitas UIEN 2018, dapat mendaftarkan diri melalui bit.ly/uien2018.

Grand Launching UI Entrepreneur Networking 2018
    • admin
    • January 1, 2014
    Reply

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

    • admin
    • January 1, 2014
    Reply

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat

      • admin
      • January 1, 2014
      Reply

      Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip

Read more

Main Article: What is Sociopreneurs and Why do We Need Them?

ceds ui | March 30, 2018

Akhir-akhir ini, kata sociopreneur sedang marak terdengar di dunia bisnis. Sahabat CEDS sendiri tahu gak sih apa itu sociopreneur? Istilah sociopreneur sendiri sebenarnya berasal dari kata social dan entrepreneur. Social berarti memiliki hubungan dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya, sementara entrepreneur merupakan orang yang membangun dan menjalankan sebuah bisnis. Umumnya, jiwa seorang pengusaha yang cenderung profit-oriented dengan pejuang sosial yang cenderung welfare-oriented memang sulit bersatu. Tapi, tidak dengan seorang sociopreneur. Sociopreneur merupakan orang yang membangun dan menjalankan bisnisnya tidak hanya untuk keuntungannya sendiri, namun juga untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan di sekitarnya.

Mengapa seorang sociopreneur menjadi sosok yang penting? Alasan utamanya adalah karena masih jarang kita temukan sosok entrepreneur berjiwa sosial saat ini. Dalam bisnis, umumnya, perusahaan hanya menjalankan program CSR (Corporate Social Responsibility) mereka karena dituntut oleh undang-undang yang berlaku, bukan karena mereka benar-benar ingin memberikan dampak sosial bagi lingkungan di sekitarnya.

Padahal, sosok sociopreneur dapat berperan penting demi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya, terutama di negara-negara berkembang yang masih perlu banyak uluran tangan bukan hanya dari pemerintah, namun juga dari kaum pengusaha.

Read more