cropped-Logo-WEB.pngStudent Body for Business

Center for Entrepreneurship Development and Studies

logo-kecil 

 

 HOME        TENTANG      PROGRAM & PRESTASI      BISNIS ANGGOTA CEDS      BERGABUNG      ILUNI      EVENTS     BLOG

What is Sociopreneurs and Why do We Need Them?

Hasil gambar untuk economicstudents.com: poverty child

Sumber: economicstudents.com

Akhir-akhir ini, kata sociopreneur sedang marak terdengar di dunia bisnis. Sahabat CEDS sendiri tahu gak sih apa itu sociopreneur? Istilah sociopreneur sendiri sebenarnya berasal dari kata social dan entrepreneur. Social berarti memiliki hubungan dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya, sementara entrepreneur merupakan orang yang membangun dan menjalankan sebuah bisnis. Umumnya, jiwa seorang pengusaha yang cenderung profit-oriented dengan pejuang sosial yang cenderung welfare-oriented memang sulit bersatu. Tapi, tidak dengan seorang sociopreneur. Sociopreneur merupakan orang yang membangun dan menjalankan bisnisnya tidak hanya untuk keuntungannya sendiri, namun juga untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan di sekitarnya.

Mengapa seorang sociopreneur menjadi sosok yang penting? Alasan utamanya adalah bahwa masih jarang kita temukan sosok entrepreneur berjiwa sosial saat ini. Umumnya, perusahaan hanya menjalankan program CSR (Corporate Social Responsibility) mereka karena dituntut oleh undang-undang yang berlaku, bukan karena mereka benar-benar ingin memberikan dampak sosial bagi lingkungan di sekitarnya. Padahal, sosok sociopreneur berperan penting demi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya, terutama di negara-negara berkembang yang masih perlu banyak uluran tangan bukan hanya dari pemerintah, namun juga dari kaum pengusaha.

Menurut data yang kami dapat dari UNICEF pada tahun 2016, jumlah total anak berusia 0-17 tahun yang menderita kemiskinan ekstrem di dunia sudah mencapai 385 juta orang. Angka ini terdiri dari 122 juta anak berusia 0-4 tahun, 118 juta anak berusia 5-9 tahun, 99 juta anak berusia 10-14 tahun, dan 46 juta anak berusia 15-17 tahun. Belum lagi, fakta bahwa kemiskinan juga berdampak buruk pada tingkat kesehatan. Ternyata, 1 dari 7 anak di seluruh dunia tidak menerima 3 dosis wajib DTP pada tahun 2016. Mengingat semua deretan angka ini bukanlah angka yang sedikit, maka menurut kami peran pemerintah dan masyarakat sangatlah penting dalam mengatasi kemiskinan ekstrem ini. Jika pemerintah dapat menurunkan tingkat kemiskinan ini melalui pemberian kebutuhan pokok secara gratis maupun memberikan pelatihan kepada mereka yang membutuhkan pekerjaan, maka masyarakat juga seharusnya dapat membantu melalui berbagai macam hal. Mulai dari program CSR yang biasanya dilakukan pengusaha, sampai pembagian keuntungan perusahaan secara reguler seperti yang dilakukan oleh Kak Azka Asfira Silmi melalui start up buatannya, yaitu Geevv.com. Hal ini karena kewajiban untuk menyejahterakan masyarakat bukan hanya merupakan kewajiban pemerintah saja, namun juga kewajiban kita semua. baik sebagai anggota masyarakat maupun sebagai pengusaha. Oleh karena itu, yuk mulai berwirausaha sambil mengerjakan kewajiban sosial kita!

 

Referensi:

https://www.unicef.org/publications/files/Ending_Extreme_Poverty_A_Focus_on_Children_Oct_2016.pdf (diakses pada 13 Februari 2018 jam 21.46)

https://data.unicef.org/topic/child-health/immunization/ (diakses pada 13 Februari 2018 jam 21:59)

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt52716870e6a0f/aturan-aturan-hukum-corporate-social-responsibility (diakses pada 9 Maret 2018 jam 10.16)

Ditulis oleh Vadya Amalia

Leave a Comment