HOME      ABOUT US      PROGRAMS     BUSINESSES OF MEMBERS     ACHIEVEMENTS   HOW TO JOIN     ILUNI     BLOG

Main Article: When Fashion is More Than Just Clothes

Sahabat CEDS, apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata fashion? Mungkin di antara kalian ada yang akan menjawab dengan sederhana bahwa fashion berarti gaya berpakaian yang mencerminkan pribadi kita. Ada juga yang akan menjawab bahwa fashion adalah cara kita berkomunikasi secara nonverbal untuk menunjukkan kepribadian, pekerjaan, dan jenis kelamin kita. Keduanya memang betul. Namun, bagaimana jika ternyata makna fashion ternyata lebih dalam dari itu? Fashion ternyata bisa juga diartikan sebagai fenomena kompleks yang menggabungkan berbagai pandangan, mulai dari psikologis, sosiologis, kultural, sampai komersial. Memahami fashion sebagai hal yang lebih dalam daripada sekadar gaya berpakaian ini ternyata penting banget untuk calon entrepreneur seperti kita, lho. Hal ini menyadarkan kita supaya kita jadi lebih aware dengan perkembangan sosial, budaya, dan politik di sekitar kita, voila … turn them into a piece of meaningful cloth! Sebagai pengetahuan dasar, Sahabat CEDS bisa mengintip nih contoh-contoh fashion statements yang sempat mondar-mandir di berbagai tempat, baik di runway maupun di toko retail! Ada apa saja, ya?

Fashion as a Politic Statement

Pada New York Fashion Week Spring 2017 lalu, koleksi dari R13 Denim sempat menjadi perbincangan hangat di dunia. Bagaimana tidak, Chris Leba berani menampilkan koleksinya yang berbau politik. “I like to think that there’s a consistency about (what) we’re trying say and what we’re trying to express,” ucap Leba kepada media.

Dengan menampilkan koleksi-koleksi tersebut sekitar 2 bulan sebelum pemilihan presiden baru Amerika Serikat, banyak orang bertanya-tanya apakah Leba takut terhadap dampak menampilkan political statement seperti ini di ajang fashion runway. “I did for a second, but I felt strongly enough about it — that’s what it is to be American. You get to say what you want to say and people can have their opinion,” ungkapnya.

Sumber: fashionista.com

Sumber: fashionista.com

Sumber: fashionista.com

Fashion as Supporting Diversity Statement

Ternyata, diversity tidak hanya sedang menjadi perbincangan hangat di dalam negeri. Topik ini juga menjadi perbincangan di luar negeri, bahkan sampai menjadi ide untuk fashion show Prabal Gurung’s Autumn/Winter 2017 di New York Fashion Week lalu. Prabal Gurung, seorang desainer pakaian asal Nepal-Amerika Serikat, mengangkat topik tentang feminisme dalam koleksinya.

Sumber: vogue.com

Sumber: vogue.com

Prabal Gurung bukan satu-satunya desainer yang mengangkat topik tentang feminisme di dalam koleksinya. Maria Grazia Chiuri, Creative Director Dior, juga mengeksplorasi topik ini di koleksi Dior. Nggak tanggung-tanggung, bahkan kaos putih polos milik Dior ini sampai dihargai lebih dari $700.

Sumber: businessinsider.com

Sumber: vogue.com

Honestly, this was not about making money,” jelas Chiuri. Chiuri menambahkan bahwa membuat Sydney Toledano, CEO Dior, untuk menyetujui kaos ini tidak mudah. “‘Dior is not a t-shirt brand’, I was told. All the profits have gone to charity,” jelasnya.

Fashion as Supporting Mental Health Statement

Wear Your Label didirikan oleh Kayley Reed dan Kyle MacNevin yang pernah berkuliah di universitas yang sama dan sama-sama menjadi sukarelawan di sebuah organisasi kesehatan mental. Saat itu, Kayley berusaha untuk mengatasi eating disorder dan depresi yang ia derita, sementara Kyle menjalani hidupnya dengan generalized anxiety disorder dan ADHD. Sembari menyemangati satu sama lain, mereka menyadari bahwa diskusi tentang kesehatan mental dalam cara yang sehat, terbuka, dan suportif, masih sangat jarang saat itu. “We both love fashion, and in a ‘lightbulb’ kind of moment, decided to combine the two (fashion and mental health) to help bring visibility to this, typically invisible, issue,” jelas Kayley. Akhirnya, mereka melahirkan brand Wear Your Label sebagai salah satu cara untuk membawa isu ini ke publik.

Sumber: medium.com

Gambar terkait

Sumber: much.com

Dalam mencari model untuk brand mereka, Kayley dan Kyle tidak memilihnya berdasarkan batasan tinggi, berat, dan ukuran lainnya. “It was an eight-hour day sitting behind a table, watching hundreds of models walk in and out, and judging them by only seeing their physical appearance and hearing their measurements read off,” Kayley bercerita. Akhirnya, mereka memilih model potensial dengan meminta model tersebut untuk berbagi cerita tentang kesehatan mental mereka dan menjelaskan mengapa menghentikan stigma tentang penyakit mental merupakan hal yang penting bagi mereka.

Wah, ternyata, tema-tema menarik seperti politik, feminisme, bahkan sampai kesehatan mental, bisa juga dipadukan ke dalam fashion, ya! Nah, bagaimana Sahabat CEDS, sudahkah terpikirkan tema menarik apa yang akan kamu angkat untuk brand-mu?

 

Referensi:

Fernandez, Chantal. (2016, September 8). R13 Kicks Off an ’80s Goth Runway Show with Stephen Sprouse — Inspired Trump Shade. Diambil kembali dari https://fashionista.com/2016/09/r13-spring-2017-trump

Armstrong, Lisa. (2017, November 29). ‘I didn’t really discover feminism until I was 48’: Dior’s Maria Grazia Chiuri on Using Fashion for Political Ends. Diambil kembali dari https://www.telegraph.co.uk/fashion/people/didnt-really-discover-feminism-48-diors-maria-grazia-chiuri/

Makeba, Moeima. (2018, Januari 3). An Industry at Odds: Fashion Politics 2017. Diambil kembali dari https://www.heroine.com/the-editorial/fashion-politics-2017

She’s Fit to Lead. (2016, November 15). It’s OK Not to Be OK — Introducing Wear Your Label. Diambil kembali dari http://www.shesfittolead.com/wear-your-label/

 

Ditulis oleh Vadya Amalia

 

Leave a Comment